Berterimakasih dengan social media

Source: pexel

Kadang ngerasa gak sih? Kalau socmed diciptakan untuk menjauhkan kita dari dunia luar, menjauhkan kita dari interaksi sosial dan kita dibuat sibuk untuk kecanduan socmed.

Pernah gak merasa? Kalau sebelum ada social media dan internet yang dapat diakses secara mobile 24 jam. Dunia kita baik-baik saja dan gak pernah takut ketinggalan atau jadi FOMO.

Dunia dan kebiasaan orang banyak berubah ketika social media sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Banyak orang yang mau menonton sebuah kebodohan-kebodohan yang viral seperti Ibu Tua yang mandi di bak atau mandi lumpur kedinginan di tengah malam.

Sungguh tidak masuk akal dan nalar, kenapa seorang anak bisa menyuruh ibunya Live seperti itu?

Memang tidak semua pengaruh social media membawa dampak buruk. Banyak juga kebaikan dari social media seperti personal branding, bisnis dan juga marketing. 

Bertebarnya konten di social media dan banhaknya informasi yang berseliweran. Kitalah yang harus memilih dan memfilter tontonan mana yang bagus, konten mana yang menghibur dan bisa mengedukasi kita ke arah yang lebih baik.

Social media itu hanyalah part dari kehidupan seseorang yang ia citrakan. Pencitraan bukan berarti hal buruk, tetapi pencitraan akan menjadi buruk kalau ia hanya berpura-pura tidak menunjukan keaslian yang sebenarnya demi keuntungan untuk mencapai tujuannya. 

Pencitraan para politikus misalnya, dibutuhkan menjelang kampanye. Setelah selesai ya mungkin janjinya yang diumbar dahulu tidak menjadi kenyataan. Walu tidak semua tapi kebanyakan. 

Ketika Social Media sudah menjauhkan kita dari dunia luar. Maka alangkah baiknya kita membatasi penggunaannya danbisa loh mendetox social media dengan cara logout atau uninstallnya selama 1 pekan, kemudian kita fokus dengan hobi atau pekeraan kita yang lain. 

Memang tidak semua pekerjaan bisa seperti itu, terlebih untuk yang bekerja di industri digital dengan spesifik social media specialist, digital marketing dan performence. 

Bagi saya yang bekerja dan bersinggungan dengan social media, social media pun digunakan untuk urusan pekerjaan diluar itu saya agak jarang berinteraksi di social. media kebanyakan hanya upload content selesai dan sesekali mengecek inbox atau DM karena membuka whatsapp hanya untuk urusan pekerjaan dan DM untuk lebih interaksi personal. 

Social Media sudah menjadi toxic untuk kita, ketika kita merasa cemas atau khawatir kalau like,comment, dan engagement tidak banyak. 

Maka ketika saya membuat content atau apapun di dunia maya. Itu adalah cara saya untuk bersenang-senang menyenangkan diri sendiri. Content yang saya buat bukan untuk orang lain, tapi kalau mereka menikmati syukur kalau tidak ya sudah.

Hobi dan suka dengan  content hingga bekerja  sebagai content creator. Kadang membuat saya ingin punya hobi dan keahlian lain. Karena ketika saya libur biasanya saya tidak ingin membuat content juga.

Tapi saya mengucapkan terimakasih kepada social media karena selama 11 tahun ini dialah yang menghidupi saya dan membuat saya happy bekerja menggunakannya. 


Comments

Post a Comment