6 Kesalahan millenial yang membuatnya sulit menabung

image: Youthmanual
Seorang teman pernah berkata pada saya “gajian enam koma, tanggal enam langsung koma” 

Pernahkah kalian merasa gaji atau penghasilan yang di dapat perbulan sangat pas-pasan? Dan sulit untuk menabung? Jika ‘Ya’. Hal ini, bukan kamu saja loh yang mengalami.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan  GoBankingRates memaparkan bahwa  kaum milenial muda atau mereka yang berusia 18-24 tahun hanya memiliki saldo tabungan kurang dari USD 1.000 atau setara sekitar Rp 14,6 juta (dengan kurs Rp14800).

Bahkan hampir separuh, dari mereka tidak memiliki tabungan sama sekali. Gila kan, coba bayangkan apa jadinya jika itu terjadi sama kalian?

Buat saya, menabung itu sangat penting karena menabung dapat membantu saya untuk mencapai tujuan keuangan saya dimasa depan. Akan tetapi, dalam prakteknya disiplin menabung itu cukup sulit dilakukan.

Lalu, sebenarnya apa saja kesalahan kita generasi millennial,  sulit untuk menyisihkan uang atau menabung ?
1. Perilaku Konsumtif
Inilah yang sering saya amati, perilaku konsumtif generasi milenial menjadi masalah utama. Seiring dengan bertambahnya penghasilan semakin tinggi pula tingkat konsumsi kita.

Misalnya jika dahulu saya membeli sepatu hanya 1-2 kali dalam satu tahun, pernah dalam sebulan saya membeli dua sepatu karena tergiur iklan-iklan yang terklik di social media.

Menurut saya pengaruh social media marketing dan peran para influencer dalam memutuskan kita membeli sebuah produk juga sangat mempengaruhi.
2. Memiliki Kartu Kredit
Coba cek berapa jumlah kartu kredit yang ada di dompetmu? Jika lebih dari satu, berarti kamu adalah orang yang konsumtif.
Bagi saya kartu kredit itu boleh saja digunakan asal bijak dalam menggunakannya dan bisa mengatur dengan baik.
Yang membuat pengguna kartu kredit kurang bijak karena tak jarang kita tergiur oleh promo-promo kartu kredit. Misalnya, ketika ada promo tiket pesawat sebenarnya saya gak ingin jalan-jalan tetapi karena tiketnya murah sayang untuk dilewatkan.
Lalu setelah membeli tiket pesawat, saya pun masih harus mengeluarkan pengeluaran lainnya seperti memesan hotel, transportasi, makan dan membeli oleh-oleh.

image : gobankingrates
3. Memiliki Hutang atau Cicilan
Begitu pula, ketika ada promo cicilan 0% plus potongan harga untuk gadget atau smartphone. Generasi milenial yang saya lihat pasti rela antri ketika ada launching handphone terbaru. Apalagi kalau ada embel-embel bonus special yang hanya berlaku saat launching.

Bahkan beberapa e-commerce dan provider telekomunikasi sering bekerjasama dengan vendor smartphone untuk melakukan pre-order exclusive yang hanya ada di tempat mereka.

Padahal sih nantinya, semua toko online dan toko konvensional akan menjual produk tersebut. Tetapi, eforia menjadi pemilik pertama inilah yang menjadi prestige tersendiri.

4. Tidak Memisahkan Rekening Tabungan
Saya pernah membaca hasil riset BPS (2010). Dalam riset tersebut menunjukan bahwa baru ada 60 juta orang Indonesia yang telah memiliki rekening tabungan. Survei serupa pun pernah di paparkan oleh World Bank kalau “62%” rumah tangga di Indonesia “belum memiliki” rekening tabungan.

Nah, gak heran kan kalau kita orang Indonesia tidak  gemar menabung.

Tapi buat kita generasi milenial paling  tidak kita sudah memiliki satu akun rekening di Bank bukan?

Nah, ini juga kesalahannya. Hanya memiliki satu rekening rekening di Bank. Rekening gaji dan tabungan sama-sama saja.

Dulu saya juga mengalaminya, tapi saat mendengar saran dari kakak saya untuk memisahkan rekening tabungan dengan gaji. Hal itu, membuat saya menjadi lebih disiplin dan giat untuk mengumpulkan uang.

Beda waktu tabungan tidak dipisahkan, uang saya jadi terpakai terus karena dengan mudahnya dapat ditarik  di ATM ataupun di gesek di mesin EDC.

Memisahkan tabungan juga membuat pengeluaran kita lebih jelas. Karena dari awal, sudah dipisahkan begitu saya menerima gaji.

Sedangkan dalam memilih bank untuk menabung, saya menyiasatinya dengan menabung   di Bank yang membebaskan biaya administrasi atau yang biaya administrasi lebih rendah plus ATM nya sedikit jadi susah untuk diambil.

Coba bayangkan, jika saya dikenakan biaya adminstrasi  Rp 15.000/bulan. Maka dalam satu tahun saya harus membayar biaya admin sebesar Rp 180.000,- dan jika saya memiliki dua tabungan maka saya harus membayar Rp. 360.000,-

Rp. 360.000,- bagi saya Itu cukup buat membeli kuota atau paket data hampir 4 bulan.

5. Kebutuhan vs Keinginan atau Pamer ?
Saat saya belajar ekonomi di bangku sekolah. Saya teringat, kalau kita diajarkan macam-macam kebutuhan seperti kebutuhan primer sekunder dan tersier. Selain itu, saya juga dibekali dengan anjuran untuk membeli sebuah barang atau jasa berdasarkan kebutuhan daripada keinginan.

Tapi zaman now, mungkin itu sudah tidak berlaku lagi.  Sebuah riset yang pernah dilakukan oleh LearnVest (sebuah perusahaan finansial) kepada 1000 respondennya. Ditemukan 56% generasi milenial mengaku mengupload foto bersenang-senang di social media agar dinilai ‘mampu’ mengunjungi tempat-tempat wisata, berlibur, makan ditempat mewah dan membeli barang-barang mahal.

Itu sih gila banget ya, membuang-buang uang hanya untuk menjadi social climber panjat  sosial. Bahkan sebagian dari mereka tak jarang sampai berhutang demi tuntutan gaya hidup fake tersebut.

Ingat, kehidupan seseorang itu tak seindah akun Instagram-nya!

6. Belum Melek Investasi
Menabung memang penting tetapi menabung saja tidaklah cukup jika kamu ingin dikasih lebih.

Berapa sih, bunga deposito  saat ini? Paling-paling  kita hanya mendapat tak lebih dari 6% dan untuk bunga tabungan lebih rendah lagi.

Nah, untuk berinvestasi biasanya saya membeli reksa dana, emas dan juga membeli produk asuransi yang didalamnya sudah memiliki investasi.

Awalnya sih, ini tidak disarankan oleh para financial planner membeli asuransi yang ada unsur investasi.  Tetapi setelah dikalkulasikan, kita bisa dikasih lebih.

Oh, ya dalam berinvestasi kita juga harus memilih produk yang aman. Sebab, jika kita berinvestasi ditempat yang aman pasti dikasih lebih.

Kita juga harus pintar melihat perusahaan penyedia investasi dan jasa keuangan lainnya. Karena akhir-akhir ini sedang maraknya perusahaan investasi bodong. Mereka menawarkan iming-iming keuntungan sangat besar diatas rata-rata.

Maka kamu jangan mudah tergiur, dengan janji-janji manis seperti itu. Cobalah untuk lebih waspada dan mengecek perusahaan-perusahaan investasi  dan jasa keuangan di situs halaman OJK.

Terakhir saran saya, jika kamu ingin berinvestasi sebaiknya kamu tidak memiliki hutang atau cicilan.  Sebab jika jumlah cicilan lebih dari 30% dari pendapatan, alangkah baiknya kamu melunasi hutang terlebih dahulu.

#PastiDikasihLebih


6 Kesalahan millenial yang membuatnya sulit menabung 6 Kesalahan millenial yang membuatnya sulit menabung Reviewed by Riza Firli on September 07, 2018 Rating: 5

43 comments:

  1. Rata2 gitu ya... Dikit2 upload...cost uploadnya jd tinggi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia jaman now.. apa apa update update dimana dimana 😃

      Delete
  2. meskipun saya punya rekening yg berbeda entah kenapa saya belum bisa menerapkan rekening khusus tabungan XD

    padahal poin ini penting banget yg ga boleh dilewatkan sama sekali lho...

    kalau dibilang nabung, porsi saya sedikit sekali karena setengah dari gaji saya arahkan ke investasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh berarti bagus udah melek investasi. Beli produk apa ajaa ?

      Delete
  3. Menggunakan credit card sepertinya mudah, emang mudah geseknya, tapi akibatnya bisa fatal. Sudah banyak yang terjebak dengan kenikmatan credit card dan lebih banyak lagi yang terjerumus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia jangan sampai terjerumus dan gk bisa bayar trus di datengin debt collector.. amit amit..

      Delete
  4. perilaku konsumtif itu yang sulit. gmn tangan ini selalu gatel mau beli ini itu. salam kenal yaa. ternyata yang comment di blog gue udah mastah ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget dan godaannya berat shay.. aduh aku mastahh ya ampun enggak lah masih terus belajar karena byk para blogger baru bahkan lebih kece misalnya aja jengyuni.com walah ibu rumah tangga tp content2nya keren bgt..

      Delete
  5. Lagi lagi bijak banget mengelola keuangan keluarga nih semoga istiqomah ga narik uang di tabungan khusus heheh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya mesti pake rekening tabungan rencana deh biar duitnya gk bs keambil sampe setahun ..hheee

      Delete
  6. Perilaku konsumtif dan tergiur promo adalah problem saya wkwkwk... Benar juga, sebaikna rekening tabungan memang harus dipisah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia klo gk bakal ketarik terus di atm.. khilaf

      Delete
  7. Kalau saya dulu penyebab sulit nabung, karena sulit membedakan kebutuhan dan keinginan, sehingga menyebabkan pengeluaran nyaris lebih besar dari pemasukan hiks.

    BErsyukur semakin bertambah usia, semakinbisa mengontrol diri dan belajar mana kebutuhan mana keinginan, terlebih pamer

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia karena wkt muda Kan masany berekspresi pingin abcdef sampe z bm.. begitu semua udah dicobaa dan usia semakin matang jd harus prioritasin masa depan

      Delete
  8. masa muda memang masanya menyenangkan diri sendiri, pengalaman saya sih ..ada masanya dimana mulai berhemat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia kayaknya menginjak 28 keatas mulai berpikir ..21 -28 mungkin masa dimana memang hura2 ..hehee

      Delete
  9. Duh saya jadi tertohok mas, hahaha :))
    Tapi udah mulai kurang2in kok.
    Udah mulai buka tabungan rencana buat jangka panjang, heheheh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia tabungan rencana..jd langsung kedebet tiap bulan 😁

      Delete
  10. wah menarik nih sebagai pengingat. memang butuh gaya hidup yang fleksibel namun disiplin ya biar keuangan jg sehat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia harus flexibel.. sehat hati pikiran dan juga keuangan hehehe

      Delete
  11. Iya dihitung2 admin bank gede ya belum lagi klo telat bayar kartu kredit 😖😖

    ReplyDelete
    Replies
    1. jgn sampe telat dan jgn sampe minumum pay. bunganya gede bgt

      Delete
  12. iya nih. makin ke sini rasanya makin susah buat nabung. kayaknya ada aja keperluan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Atau pengeluarannya di list aja.. nanti klo ada barang yg mau dibeli tapi gk sesuai kebutuhan atau gk mepet2 banget buat dibeli.. jadiin itu to do list bulan depan :)

      Delete
  13. Bersyukur sih saya nggak bgtu tertarik yg gtu2, saya masih bisa nabung 20rb sehari buat kebutuhan yg sangat diperlukan misal pendidikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh ikutan the power of 20rb jg yaa.. 😀😄

      Delete
  14. untungnya saya udah nggak pake kartu kredit... jadi keuangan saya masih aman damai :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Good... kartu kredit kan kartu hutang hhaaa 🤣🤣

      Delete
  15. Penting banget memang memiliki bbrp rekening tabungan, biar ga kecampur2. Bs ludes nanti huehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia.. tp harus diperhatiin jg biaya admin2 nya jgn sampe rugi terkuras

      Delete
  16. aku pernah ngerasain tuh ngagk bijak mengelola kartu kredit, paiit haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia harus hati2..karena kita tergiur dengan sale promo dll.. :) dan klo udah belanja gk berasa ..

      Delete
  17. Rata-rata gaji diperol ke tabungan yang ada ATM-nya ... yak ludesnya pun kadang tidak kira-kira. Untungnya bisa menabung sedikit demi sedikit karena ada DPLK kewajiban dari kantor via salah satu bank (perolnya di bank lain). Jadi, lumayan lah hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. oh gitu teh.. wah ia , enak kalo gitu jad bisa kesisihin buat nabung nya paling gk..jd pas gajian gk ludes2 amat *emm..

      Delete
  18. Untung aja sampai sekarang saya gak punya kartu kredit. :D
    Konsumtif sebenernya hal yang agak wajar kalo tinggal di Jakarta. Gaji gede tapi pengeluaran juga gede. Kalau tinggal di luar Jakarta akan lebih hemat. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. good jg ya kamu traveler tp gk punya cc :) ..bagus cash keras!

      Delete
  19. ia karena apa apa ada di jakarta, dan mudah yaa..:) gaji gede pengeluaran gede jadi ya sama aja hahaha :)

    ReplyDelete
  20. Konsumtif
    Iya banget sih...apalgi semenjak onlen shop menjamur. Kadang kalau lagi bapuk, maennya ke situs onlen shop. Ujung-ujungnya beli sesuatu yang sebenarnya gak butuh.

    Punya Hutang/ cicilan.
    Ini paling ngeselin..karena harus pinter-pinter muterin duit. Alhasil terpaksa ngutang/ beli barang kredit. Agar duit masih bisa dipake buat yang lain.

    Kebutuhan vs keinginan atau pamer
    Jujur semenjak Instagram rame, semenjak itu pula barang atau tempat yang ada di instagram jadi pengen dipunyai atau di kunjungi. Kadang malah sampai maksain diri buat bisa ngunjungin tempat tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia namanya jg anak muda anak millenial,, lebih mikirnya pengalaman memebeli sesuatu karena ingin kekinian .. cuma ya jangan sampai maksaiin, hura2 boleh asal dari uang sisa yg tidak terpakai walau sulit ya memiliki uang sisa yang tidak terpakai hahaha :)

      Delete
    2. gaya hidup para milenial saat ini sangat kejam...mereka over komsumtif.Mereka tak mampu membeli program asuransi krn sdh terjebak dgn pengeluaran dan utang akibat gaya hidup over komsumtifnya..

      Delete
    3. Ia konsumtif bgt karena di dukung oleh online shop market place yg bebas ongkir 😃😃 jd makin mudah

      Delete
  21. Sebagai millenial harus berpikir realistis terutama utk masa depan.
    Gpp susah sekarang, tp nanti pasti dikasih lebih happy.

    Alhamdulillah gak punya CC :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia bener harus mau susah dulu biar di kasih lebih kemudian 😀😁

      Delete

Powered by Blogger.