Sunday, 16 September 2012

Nyonya Besar (kumpulan kisah kaum sosialita)

Judul : Nyonya Besar .Based on true story. Kumpulan kisah kaum sosialita
Pengarang : Threes Emir
Penerbit : Gramedia
Cetakan: ke-3 Mei 2012
Jumlah hal : 268 hal.







Satu lagi buku tentang kaum sosialita berjudul Nyonya Besar, buku ini merupakan kumpulan kisah nyata tentang kehidupan kaum sosialita. Awalnya sih saya kira buku ini mirip dengan buku miss jinjing yang di dalamnya banyak membahas tentang ke glamouran, hobi belanja, fashion dan rumpian yang membahas kehidupan kalangan menengah atas. Karena terlihat dari sampulnya ada sebuah kaki yang menggunakan sepatu dan tas bermerek

Namun ternyata buku ini sangat berbeda dari buku miss jinjing karena jika miss jinjing membahas kehidupan sosialita secara gamblang tetami Threes Emir dalam buku nyonya besar membahas kehidupan sosialita namun  dengan gaya penulisan dan penyampaian yang berbeda.

Seperti kita ketahui kehidupan sosialita sangat identik dengan party, menghabiskan uang, pemborosan uang dengan belanja serta perawatan kecantikan. Namun disisi lain buku ini membahas tentang sisi baik dan hal positif serta bijaksana dari seorang nyonya besar yang mempunyai harta berlimpah dalam kehidupannya

Setiap bab dalam buku ini mempunyai ceritanya sendiri, dimana setiap cerita memiliki konflik, masalah, dan kisah yang berbeda-beda pula. Hampir dari semua bab menurut saya banyak pelajaran bijak yang dapat kita ambil dari buku ini.

bab yang paling saya suka dalam buku ini pada  nyonya besar 8

Dimana dalam buku ini menceritakan seorang nyonya besar bernama Isti yang setelah anaknya besar satu persatu keluar dari rumah dan  ia memiliki kegitan sosial untuk mengisi waktu senggangnya. Dimana dalam satu bulan sekali mengunjungi LP wanita dan rumah sakit. 

Dan setelah suaminya meninggal ia menambah kegiatan baru dimana ia melakukan kegitan sosial baru, selain mengunjungi Rumah Sakit dan LP. Yakni ia memberi makan orang-orang terlantar di jalanan dengan cara memasak makanan dan nasi bungkus yang dibuatnya sendiri lalu di bagikan. Kegiatan tersebut ia lakukan pada tanggal 2 setiap bulannya, karena pada tanggal tersebut bertepatan dengan tanggal ulang tahun alm. suaminya.

Bulan demi bulan berlalu kejadian demi kejadian dirasakan isti, sopir dan pembantunya yang membantu isti dalam kegiatannya membagikan nasi bungkus tiap tanggal 2. Banyak orang-orang di jalan yang senang namun dikarenakan jumlah nasi bungkus yang ia bagikan terbatas dan cepat habis dalam sekejap. Hal itu menyebabkan kemarahan orang-orang yang tidak kebagian jatah atau tidak boleh meminta lebih. Bahkan tak jarang mobil ibu isti menjadi korban kekecewaan orang-orang tersebut dengan cara menggoreskan mobilnya.

Namun bu Isti tidak mempermasalahkan hal tersebut. Justru dari hal itu ia banyak belajar bahkan ia   menambahkan jumlah nasi bungkus yang ia bagikan yakni dari 100 bungkus menjadi 500 bungkus nasi. Dan kesemuanya itu ia masak sendiri. 

Kedermawanannya menjadikan ia dikenal dan diketahui seorang anggota dewan dari sebuah partai, lalu  orang tersebut tertarik dengan ibu Isti untuk mengajaknya agar bergabung aktif dikegiatan sosial partainya. Namun ibu isti menolak dengan alasan karena ia tidak pernah tertarik menjadi anggota partai atau petinggi partai bahkan sejak dulu ia sangat menghindari dekat-dekat orang partai. 


Komentar saya mengenai buku Nyonya Besar :
buku ini sangat menarik, dari segi isinya sangat memberikan inspirasi kepada pembaca, banyak makna sisi kehidupan yang berharga yang diceritakan sipenulis dari kehidupan kaum sosialita, ditambah pendeliveran dan gaya penulisan yang baik.

Karena selama ini  pandangan masyarakat mengenai kaum sosialita adalah kaum yang hanya hobi party, menghabiskan uangnya untuk shoping atau berbelanja, perawatan kecantikan karena ketakutan mereka akan faktor usia. Sehingga gaya hidup tersebut membuat kita beranggapan bahwa kaum tersebut hanya kaum yang berfoya-foya akan harta yang dimilikinya.

Tapi ternyata tidak demikian, karena tidak semua kaum sosialita seperti itu, banyak kegiatan dari kehidupan kaum sosialita yang dibahas dibuku ini yang belum banyak kita ketahui. Dan semua itu memiliki nilai-nilai besar dalam kehidupan, kebijaksanaan untuk menyikapi segala peristiwa dalam kehidupan.

26 comments:

  1. ternyata emang beneran ada ya komunitas para nyonya kek gini

    ReplyDelete
  2. Iya, pernah sempet baca buku ini. Tapi, gak sampe tuntas gegara buku pinjemannya dibalikin sama kakak gue. Hahaha.

    ReplyDelete
  3. Jadi penasaran dengan buku yg satu ini, kayaknya banyak inspirasi yang bisa kita dapat dari kesimpulan watak dan sifat dari ibu isti itu sendiri, semoga banyak orang cerdas membaca nya ;)

    ReplyDelete
  4. mereka kaum sosialita sebenernya juga sama kek orang2 biasa. mereka butuh teman, komunitas. karena mereka orang yg berpunya, komunitas mereka terlihat seakan glamour, nyatanya tidak semuanya seperti itu... mereka glamour, tapi mereka juga (ada dan kebanyakan) peduli dengan orang yang tak berpunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali..setuju dengan pendapat nya

      Delete
  5. sosialita menurut gue sih nggak ada baik-baiknya, covernya doang 'social' padahal ya omong kosong. -opini
    bang temen2 lo cantik2 yah, bisa kali kenalin gue ke mereka hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. disini nyonya besar..maksud buku ini adalah para nyonya yang berkelakuan seperti nyonya yang beriwa besar..
      ia karena saya hanya mau berteman dengan orang yang cantik dan yg pintar :)

      Delete

  6. Iya, jarang banget menemukan orang yang peduli terhadap sesama. Apalagi ditambah kesabaran dalam menghadapi cobaan seperti yang mas ceritakan itu dalam buku tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi saat ini masih banyak namun sudah jarang.. perbandingannya

      Delete
  7. ini nih penggambaran nyata kehidupan nyonya2 di masa sekarang ya...
    iya..ada semacam pergeseran makna gitu harusnya kan "sosial"nya itu nggak diartikan kyak gitu..hmm

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia sosial..harusnya sih begitu..:D

      Delete
  8. Emang ada yaa komunitas nyonya gini :oo ?? Baru tau gw ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau komunitas sosialita sih emang ada..:)

      Delete
  9. Tapi sayang tak banyak orang yang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan bu Isti :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia, emang udah jarang banget..di jakarta terutama

      Delete
  10. tetap saja hal yang sulit dilakukan dan sepertinya memang "tidak bagus" untuk dijalani tidak mendapat perhatian lebih
    jarang orangyang mau..

    dan ini contoh yang luar biasa.....

    dipinjemi juga boleh :P

    ReplyDelete
  11. Sebenarnya di Indonesia aja yang mengartikan 'sosialitas' sebagai kumpulan orang2 berduit yang suka melakukan pemborosan, padahal makna sebenarnya kan ya 'bersosialisasi.'

    ReplyDelete
    Replies
    1. ia sosialite itu orang2 yang berduit memang..hehehe
      dan berbarang barang bermerek

      Delete